Friday, Jan 18th 2019
  • Kerja Bakti bersama warga Marunda Ikon Regional Jakarta Utara

    Yayasan Danamon Peduli turut serta membersihkan lingkungan

  • Seorang pedagang menggunakan fasilitas kebersihan di pasar binaan Yayasan Danamon Peduli

    Tingkatkan kesadaran akan kebersihan di sekitar pasar dengan kebiasaan mencuci tangan

Pasar Rakyat, Tradisi yang Terus Menyusut dan Terlupakan….


JAKARTA, KOMPAS.com Pembangunan di berbagai sektor secara menyeluruh sudah menjadi kebutuhan dan keharusan. Di sisi lain, pembangunan pada sektor ritel khususnya yang berkembang pesat yang terjadi saat ini, tidak melibatkan unsur kepekaan terhadap keberadaan dan kelangsungan pasar tradisional. Padahal, keberadaan pasar tradisional merupakan salah satu pilar perekonomian yang menguasai 67,6 persen pangsa dan menghidupi lebih dari 12 juta orang. Banyaknya jumlah pedagang yang mencari mata pencarian di pasar tradisional membuktikan, bahwa pasar merupakan salah satu penyedia lapangan pekerjaan yang mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Dalam UU No.7 tahun 2014, pasar tradisional disebut sebagai pasar rakyat untuk menghapus citra pasar tradisional yang selama ini memiliki kesan negatif. Demikian hal itu mengemuka pada diskusi “Quo Vadis Pasar Tradisional? Akan Dibawa Kemana, Pasar Tradisional?” yang digelar Yayasan Danamon Peduli di Jakarta, Kamis (2/10/2014). Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Restu Pratiwi, mengatakan saat ini semakin diperlukan strategi dan pengembangan pasar rakyat. Dia mengatakan, pihaknya masih berupaya untuk berperan aktif mengampanyekan peran pasar rakyat sebagai tulang punggung perekonomian. Salah satu upayanya adalah menyalurkan dana sebesar Rp 2,8 miliar untuk pengembangan dan kelangsungan di 10 pasar rakyat atau pasar tradisional di seluruh Indonesia. “Kami berupaya dan berperan aktif mempertahankan keberadaan dan kelangsungan pasar rakyat, juga turut mengampanyekan peran pasar rakyat sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Ini kami wujudkan melalui berbagai cara, salah satunya menggelar diskusi sebagai wadah komunikasi untuk membahas isu pasar rakyat. Melalui diskusi ini, kami yakin akan terbentuk kemitraan-kemitraan untuk pengembangan pasar rakyat ke depannya,” ujar Restu. Hasil survei AC Nielsen tahun 2013 lalu menunjukkan jumlah pasar rakyat di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada 2007 pasar rakyat berjumlah 13.550, sementara pada 2009 menyusut menjadi 13.450, dan pada 2011 berjumlah 9.950. Sementara itu, perbandingan pertumbuhan pasar rakyat terhadap pasar modern cukup drastis, yaitu pasar rakyat hanya kurang dari 8,1 persen, sedangkan pasar modern 31,4 persen. Restu mengatakan, keberadaan pasar rakyat di Indonesia bukan semata urusan ekonomi, namun lebih jauh dari itu mencakup mengenai isu ruang dan relasi sosial, warisan, dan ranah budaya. Bahkan, kehadiran pasar rakyat merupakan bukti peradaban yang berlangsung sejak lama mengingat nilai historisnya begitu melekat. Menyikapi kenyataan bahwa pasar rakyat saat ini keberadaannya semakin terdesak, muncul suatu pertanyaan, mampukah pasar rakyat bertahan di tengah arus modernitas yang terjadi? Sampai saat ini, salah satu penyebab tidak berkembangnya pasar rakyat adalah kondisi fisik pasar itu sendiri, misalnya bau, pengap, berantakan, becek, dan jorok penuh sampah. Kenyataan itulah yang membuat para pengunjung pasar rakyat beralih memilih pasar modern dan hypermarket yang lebih menawarkan kelengkapan dan kenyamanan berbelanja dibandingkan pasar rakyat. Selain secara fisik kalah bersaing dengan pasar modern, saat ini ciri khas pasar rakyat sebagai pasar yang menyediakan kebutuhan barang dengan harga murah juga tak lagi populer. Pasar rakyat, yang memiliki keunikan dan identik dengan pasar yang memungkinkan adanya tawar-menawar barang, juga menjadi tidak menarik lagi karena saat ini hypermarket menawarkan aneka barang kebutuhan dengan harga murah, bahkan memberikan harga diskon. Kenyataan itulah yang membuat para konsumen melupakan keberadaan pasar rakyat. Diskusi yang difasilitasi oleh Nirwono Joga, pengamat tata kota tersebut, juga dihadiri banmyak pihak yang memiliki keberpihakan terhadap isu pasar rakyat, perwakilan pedagang, serta undangan dari berbagai asosiasi terkait upaya pengembangan pasar rakyat. Dari diskusi terbatas itu diharapkan bisa menghasilkan gambaran yang jelas terkait perlindungan dan pemberdayaan pasar rakyat dan permasalahan pasar rakyat dalam rangka pengembangan dan kelangsungannya. Kedua, perlu ada strategi pemerintah dalam pengembangan dan kelangsungan pasar rakyat, serta pihak-pihak yang fokus pada pengembangan pasar rakyat untuk kemitraan. properti.kompas.com

Share the knowledge...