Friday, Jan 18th 2019
  • Kerja Bakti bersama warga Marunda Ikon Regional Jakarta Utara

    Yayasan Danamon Peduli turut serta membersihkan lingkungan

  • Seorang pedagang menggunakan fasilitas kebersihan di pasar binaan Yayasan Danamon Peduli

    Tingkatkan kesadaran akan kebersihan di sekitar pasar dengan kebiasaan mencuci tangan

Berdayakan Pasar Tradisional


JAKARTA Pemerintah harus memberdayakan pasar tradisional dalam upaya memperkokoh perekonomian. Bagaimanapun 60 persen masyarakat Indonesia tetap mengandalkan pasar tradisional. Di situ jumlah pekerja kelas menengah ke bawah terserap cukup banyak. Dengan demikian, jika pasar tidak direvitalisasi dan dibiarkan mati karena hadirnya pasar modern dan hipermarket, potensi pengangguran akan terus bertambah. Kasubdit Pengelolaan Sarana Distribusi Kementerian Perdagangan Muhammad Anwar di Jakarta, Selasa (5/7), mengatakan setidaknya ada 12,5 juta penduduk Indonesia melakukan aktivitas perdagangan di pasar tradisional. “Jumlah pasar diperkirakan lebih dari 13.450 unit dengan jumlah pedagang sekitar 12.625.000 orang dengan mempekerjakan 2-3 orang untuk melakukan penjualan,” ujar Muhammad Anwar. Sayangnya, pasar tradisional umumnya tidak pernah dilengkapi dengan fasilitas memadai, bahkan banyak di antaranya sudah tidak berfungsi. Berdasarkan hasil survei di 210 kabupaten/kota di 12 provinsi, terdapat 41 unit pasar yang tidak berfungsi dengan alasan utama 50 persen fasilitasnya rusak atau kurang memadai. Hingga saat ini ada 3.956 pasar yang disurvei Kementerian Perdagangan dan hasilnya 95 persen bangunan fisik pasar tersebut sudah berusia lebih dari 25 tahun. Karena itu langkah merevitalisasi pasar tradisional saat ini mutlak dilakukan. Menurut Muhammad Anwar, Kementerian Perdagangan sudah merevitalisasi 1.368 pasar dengan total anggaran mencapai Rp 1,694 triliun, dan saat ini tengah merevitalisasi 120 pasar dengan anggaran Rp 500 miliar. Pasar tradisional Indonesia saat ini juga berjalan begitu saja tanpa kesiapan menghadapi perkembangan ekonomi modern. Hanya 10 persen pengelola pasar tradisional memiliki pembukuan keuangan, selebihnya dikelola tanpa pembukuan. Kesan pasar tradisional yang jorok, sumpek, tidak bersih, pedagang berpakaian kumal dan dekil tak pernah berubah sejak dulu. Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli (YDP) Bonaria Siahaan di Plaza Semanggi, beberapa waktu lalu, mengatakan upaya merevitalisasi pasar tradisional sebetulnya bukan saja menyangkut pembangunan dan perbaikan fisik. Hal yang lebih penting adalah dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan peran aktif komunitas pasar dalam memelihara, merawat dan mengembangkan pasar yang dapat menjamin kesuksesan. “Di situ kami ingin membantu pemerintah. Hal utama yang ingin dilakukan YDP adalah menciptakan pasar yang bersih, sehat dan nyaman,” kata Bonaria. Kementerian Perdagangan saat ini juga tengah mengembangkan pasar percontohan di mana pada 2011 sebanyak 10 pasar, 2012 sebanyak 23 pasar, dan 25 pasar di 2013. Sepuluh pasar yang dikembangkan menjadi pasar percontohan di 2011 ini yakni Pasar Pangururan-Kabupaten Samosir, Pasar Panorama-Bengkulu, Pasar Grabag-Purworejo, Pasar Cokro Kembangan-Klaten, Pasar Minulyo-Pacitan, Pasar Agung-Denpasar, Pasar Kewapante-Kabupaten Sikka, Pasar Lambocca-Kabupatena Bantaeng, Pasar Pattalassang-Kabupaten Takallar, dan Pasar Skow-Kabupaten Jayapura. YDP bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, menurut Bonaria, telah mengalokasikan dana Rp 12 miliar untuk program yang difokuskan kepada bantuan pengembangan pasar tradisional. “Di DP itu ada Rp 12 miliar dan memang fokusnya untuk pengembangan pasar tradisional. Salah satunya Danamon menggelar Hari Pasar Bersih Nasional (HPBN) di mana kali ini masuk yang ke-4 yang akan jatuh pada 9 Juli 2011 di Pasar Grogolan, Pekalongan,” ujarnya. Sinar Harapan

Share the knowledge...